
LAZIS PDHI (Lembaga Amil Zakat Infak Shodaqoh Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia) Yogyakarta kembali melaksanakan kegiatan pentasyarufan bagi para mustahik yang termasuk dalam kategori Ibnu Sabil. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari amanah besar yang dipikul LAZIS PDHI dalam menjaga, mengelola, dan menyalurkan dana zakat, infak, serta shodaqoh secara tepat sasaran dan penuh keikhlasan. Melalui kegiatan ini, LAZIS PDHI ingin menghadirkan kembali pesan luhur dalam pelayanan umat, bahwa setiap langkah para musafir yang terlunta dan terhenti tetap memiliki tempat untuk dibantu dan dikuatkan.
Ibnu Sabil adalah salah satu dari delapan golongan penerima zakat. Mereka adalah para musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh dan mengalami kesulitan—kehabisan bekal, kehilangan ongkos, terhenti tanpa dukungan, atau tertimpa ujian di tengah perjalanan. Mungkin sebagian dari mereka di kampung halamannya hidup layak, namun di jalan, mereka menjadi sosok yang rentan, tak berdaya, dan membutuhkan uluran tangan. Syariat memberi mereka hak, dan lembaga amil berkewajiban memastikan hak itu sampai dengan layak. Karena itulah pentasyarufan kepada Ibnu Sabil bukan sekadar bantuan, tetapi pelaksanaan langsung dari perintah agama yang mengajarkan kepedulian kepada siapa pun yang sedang diuji dalam perjalanannya.
Dalam pengalaman LAZIS PDHI, banyak kisah menggetarkan dari para Ibnu Sabil: ada yang tertahan karena kehilangan dompet, ada yang pulang merantau namun seluruh uangnya dicuri, ada pula yang terjebak situasi asing tanpa seorang pun yang dapat dimintai pertolongan. Di mata mereka, ada campuran antara harapan dan kelelahan. Dan di momen-momen seperti inilah peran zakat menjadi jembatan penguat bagi langkah yang hampir terhenti.
Namun realita di lapangan tidak sepenuhnya sederhana. Seiring berjalannya waktu, para Amil Zakat menghadapi kasus-kasus yang menuntut ketelitian ekstra. Ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan celah dengan berbagai modus, berpura-pura menjadi Ibnu Sabil demi mendapatkan bantuan. Terkadang alasan terlihat meyakinkan, namun setelah ditelusuri, ternyata hanya rekayasa. Karena itu, para amil LAZIS PDHI bekerja dengan penuh kehati-hatian: melakukan verifikasi, mengonfirmasi informasi, hingga menilai kelayakan mustahik secara cermat. Semua ini dilakukan demi menjaga kesucian dana zakat, serta memastikan bahwa setiap rupiah benar-benar sampai kepada mereka yang berhak.
Seluruh upaya ini berjalan dalam semangat motto LAZIS PDHI: “Berbagi Setulus Hati.” Bagi LAZIS PDHI, berbagi bukan hanya menyerahkan bantuan fisik, tetapi menghadirkan rasa peduli, keikhlasan, dan ketenangan bagi mereka yang terbebani oleh keadaan. Ketulusan inilah yang diharapkan menjadi cahaya bagi setiap Ibnu Sabil yang sedang diuji di tengah perjalanan mereka.
Dengan terlaksananya pentasyarufan ini, LAZIS PDHI Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya untuk senantiasa menjaga amanah umat, menyalurkan kebaikan dengan penuh tanggung jawab, dan menjadi bagian dari hadirnya harapan bagi mereka yang sedang terlunta di tengah perjalanan hidup.
